Skip to content

artikel 3 Kebiasaan Buruk Pengendara Sepeda Motor yang Harus Diubah

Juni 20, 2012

Kebiasaan Buruk Pengendara Sepeda Motor yang Harus Diubah

Entah sudah berapa kali saya melihat dan mendengar kecelakaan sepeda motor seumur hidup saya. Yang terakhir terjadi, melibatkan dua motor yang saling menabrak dengan kecepatan tinggi di daerah Pademangan, Jakarta Pusat.

Salah satu korbannya (rekan saya) mengalami luka yang cukup hebat di kepalanya, dan harus menjalani operasi otak. Mengerikan!

Para pengendara sepeda motor punya kesadaran yang rendah mengenai keselamatan mereka, membuat mereka sering meletakkan nasib dalam taruhan tiap kali bepergian.

Dan tak jarang, tingkah laku mereka dalam berkendara juga membuat pengguna jalan lainnya merasa tidak nyaman dan terganggu. Tetapi tak jarang pengendara motor yang melanggar aturan justru lebih galak.

Berikut kebiasaan buruk pengendara sepeda motor yang membahayakan dan juga menyebalkan.

Tidak mengenakan helm
Helm dibuat untuk melindungi pengguna sepeda motor, bukan kepentingan atau kesenangan polisi, maupun produsen helm. Namun justru pengendara motor seperti tidak suka terhadap benda yang satu ini.

Mereka lebih suka meninggalkan helm di rumah, dengan alasan “Perginya dekat kok” atau “Nggak ada polisi ini”. Padahal siapa yang tahu bahaya apa yang menanti di perjalanan?

Seperti kata pepatah, “sedia payung sebelum hujan”, akan lebih baik jika pengendara motor “pakai helm sebelum kecelakaan”.

Tidak menggunakan kaca spion ketika berkendara
Kaca spion, saya yakin, diciptakan untuk sebuah tujuan yang baik. Agar pengendara motor dapat memperhatikan keadaan sekitarnya, terutama ketika akan berbelok atau pindah lajur.

Namun spion sering dipandang sebagai sebuah gangguan. Entah karena kurang gaya, atau membuat tidak bisa menyelip di antara kendaraan-kendaraan lain.

Pasanglah spion standar di motor Anda dan pergunakan saat berpindah jalur, demi keselamatan sendiri.

Melanggar banyak aturan dan marka jalan
Kalau yang satu ini, memang bukan kelakuan eksklusif pengendara motor. Semua pengguna jalan pasti ada yang melanggar aturan dan marka jalan.

Tetapi saya heran bukan main kalau melihat pengendara sepeda motor melawan arah, memotong jalan, berputar di sembarang tempat, menyerobot lampu merah, dan masih banyak lagi. Tidakkah mereka takut terhadap risiko kecelakaan?

Jika semua itu dilakukan atas nama mempersingkat waktu dan mengurangi jarak tempuh, apakah sepadan dengan bahaya yang mengintai? Jalanan kota memang macet tapi kalau dipikir-pikir, bukankah jika mereka menggunakan jalan yang semestinya, hanya berbeda beberapa menit?

Tidak perlu menunggu sampai Anda terserempet (atau bahkan tertabrak) untuk menyadari bahwa tidak semua kendaraan lain “sadar” atau “mengerti” keberadaan Anda di jalan.

Selalu berusaha menyelinap di antara mobil – mobil.
Okelah, ukuran motor Anda memang kecil, namun bukan berarti bisa masuk ke semua celah antara mobil. Sering kali ketika pengendara motor menyelinap, yang terjadi adalah mereka menyenggol mobil (karena salah memperkirakan lebar celah).

Yang lebih mengganggu lagi adalah ketika di tengah kemacetan, pengendara sepeda motor mengetuk-ngetuk kaca atau badan mobil, meminta mobil untuk bergeser (supaya mereka bisa lewat). Bagaimana mungkin? Sudah tidak ada ruang lagi.

Lebih baik sama-sama diam dan menikmati kemacetan, bukan.

Berteduh dan membuat titik kemacetan baru
Hujan merupakan musuh pengendara motor. Tetapi alangkah lebih baik jika pengendara motor memilih tempat yang lebih pas buat berteduh. Berteduh di jalan raya di kolong jembatan, atau di terowongan dan underpass bukan solusi yang tepat.

Anda hanya akan menyebabkan kemacetan besar di belakang.

Naik ke trotoar
Naik ke trotoar merupakan hal yang paling menjijikkan. Trotoar diciptakan bagi para pejalan kaki dan mereka akan sangat terganggu apabila ada sepeda motor naik ke trotoar. Terkadang, beberapa pengendara motor yang naik ke trotoar malah lebih galak. Mereka terus-menerus membunyikan klakson, menyuruh pejalan kaki untuk minggir.

Jangan naik ke trotoar, tetaplah di jalan raya. Sekali lagi, nikmati saja kemacetan yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

COMMENT :

I as a citizen of Indonesia, the riders motor cycle was very irregular, very reckless and disturbing other road users. Almost all Indonesian citizens have a motorcycle, and we all certainly recognize and approved the many motor cycle in the street,because Motor Cycle very cheap and the credit process is easy.

 

in fact in this case, the blame is not the only users of motorcycles, but also the government’s role should also contribute, we all know the majority of Indonesia conduct their activities on a motorcycle, because of its efficiency, both in time and cheap cost, the government should aware of this by supporting the existing infrastructure, the government is trying to build special roads for bikes, road bikes if separated by a car will definitely feel more comfortable with each other will not be disturbed.

 

regarding violations of which they often do, it’s because of lack of law enforcement specifically, how they obviously can not be easily re-offense mngulangi, because enough money Rp. 20 000 they are free.

 

good point the way users want any government and law enforcement, come together to enforce order and existing facilities, because this is all for the sake of convenience and safety of us all

 

DAFTAR PUSTAKA :

Jonathan Rian Christandar “kebiasaan-buruk-pengendara-sepeda-motor-yang-harus-diubah” http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/kebiasaan-buruk-pengendara-sepeda-motor-yang-harus-diubah.html ( diakses 20 Juni 2012 )

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: